Sabtu, 05 April 2014

Pelaksanaan Rancangan Pembelajaran Pedagogi

 
Kelompok 6
Esther A Gultom         (12-051)
Nir May A Saragih      (12-101)
M. Anggy Fajar Purba (12-104)
Santha Rebecca H       (12-106)
BAB 1

RANCANGAN PEMBELAJARAN

1.      LATAR BELAKANG
Sebagai bentuk aplikasi dari mata kuliah pedagogi, kami akan melakukan proses pembelajaran sesuai dengan prinsip pedagogi. Adapun yang menjadi prinsip pedagogi tersebut adalah kesatuan karakter ilmiah, ideologis dari proses pedagogis, hubungan pembelajaran dengan kehidupan, mengkombinasikan karakter kolektif dan individual pendidikan, penghormatan terhadap kepribadian siswa, kesatuan pengajaran, pendidikan, dan perkembangan proses, masing-masing subsistem aktivitas, komunikasi, dan kepribadian saling terkait satu sama lain (Addine, 2001). Dalam proses pembelajaran yang akan dilakukan kelompok, tidak semua prinsip pedagogi yang dipaparkan di atas terlaksana dalam prosesnya, kelompok hanya menekankan pada beberapa prinsip saja karena waktu pembelajaran yang dilakukan relatif singkat.
Proses pembelajaran ini akan dilaksanakan oleh kelompok dengan pembagian tugas sebagai pengajar, pembimbing, dan pengamat serta anak-anak sebagai objek pembelajaran. Jumlah anak dalam pembelajaran ini sebanyak empat orang yaitu: Juan, Silviana, Stefanus dan Miracle. Latar belakang pendidikan ketiga anak yakni Juan, Silviana Stefanus merupakan siswa kelas dua SD dan Miracle siswa kelas satu SD.  
Berdasarkan wawancara singkat yang dilakukan oleh kelompok kepada orangtua setiap subjek didapatkan informasi bahwa ketiga anak tersebut ( Silviana, Stefanus, dan Juan) sedang mengikuti Ujian Tengah Semester (UTS) dalam waktu seminggu dari tanggal 17 sampai dengan  22 Maret 2014. Orangtua memberikan saran kepada kelompok agar pembelajaran yang diberikan kelompok sebaiknya berhubungan dengan kegiatan yang dapat menyegarkan pikiran serta perasaan anak-anak yang baru saja menyelesaikan UTS. Hal ini dipandang baik oleh kelompok sehingga kelompok mengambil tema ‘belajar sambil berkreativitas’ untuk menyampaikan pembelajaran dengan konsep pedagogi ini.
Agar proses pembelajaran yang diberikan dinikmati oleh anak, kelompok memilih tema dan permainan yang sesuai dengan tahapan perkambangan anak.
a.       Perkembangan Motorik

1.Bermain plastisin

   Kemampuan anak dalam membentuk plastisin.

b.      Kemampuan bekerja dalam team

1.      Puzzle

·            Berlomba untuk menyusun puzzle yang disediakan bersama teman sekelompoknya.

·            Bagaimana cara anak dalam menyelesaikan masalah (thinking atau trial and error).

c.       Kemampuan kognitif (ingatan dan bahasa)

1.      Belajar membedakan binatang laut (hiu,lumba-lumba,paus) dengan menggunakan video.

2.      Memahami ciri-ciri setiap binatang laut yang ditampilkan dalam video.

3.      Menjelaskan bahasa inggris dari hasil kreasi plastisin yang dibuat anak didik di depan teman-teman yang lain

d.      Pengetahuan Umum

Games yang diberikan merupakan games yang berhubungan dengan pengetahuan umum. Judul gamesnya adalah “Siapakah aku ?”.

Kegiatan pembelajaran ini akan dilaksanakan dengan jumlah pertemuan sebanyak dua kali dengan durasi 60 menit setiap pertemuan. Setting tempat dalam proses pembelajaran adalah indoor. Lokasi ini merupakan rumah dari salah satu anak yang menjadi anak didik yang berada di Jl. Penerbangan Kompleks Perhubungan Medan. Fasilitas yang mendukung antara lain meja belajar, kursi, video ‘mengenal binatang laut’, alat-alat kreativitas seperti plastisin, puzzle, kertas, dan pulpen. Ruangan yang digunakan akan dihiasi dengan balon untuk menarik perhatian anak agar lebih semangat dalam mengikuti program pembelajaran.
Pada pertemuan pertama anak didik akan meciptakan kreasi dengan menggunakan plastisin. Kemudian pada pertemuan kedua kelompok akan menampilkan video ‘mengenal bintang laut’ kepada anak didik agar lewat video tersebut anak mampu mengetahui ciri-ciri binatang laut dan mampu membedakannya. Kelompok juga akan memberikan puzzle yang disesuaikan dengan video (binatang laut) yang telah ditampilkan agar anak lebih mengingat pengetahuan yang didapatkannya. Disini anak akan dibagi menjadi dua kelompok. Setiap kelompok akan terdiri dari dua orang. Tujuan dilakukannya pembagian kelompok adalah untuk melihat bagaimana kerja sama di antara anak dalam memecahkan masalah ketika menyusun puzzle.



BAB 2

KONSEP RANCANGAN BELAJAR

1.      PEMBAGIAN SEKUEN PEMBELAJARAN

Kelompok kami akan mengadakan dua kali pertemuan dalam proses pengajaran yang dilakukan

Pertemuan I : Selasa, 1 April 2014

·         Perkenalan/Pendahuluan (15 Menit)

Kelompok akan memperkenalkan diri dan meminta peserta untuk memperkenalkan dirinya juga. Kemudian untuk mencairkan dan mengakrabkan suasana akan diadakan games dengan judul “Siapakah aku?”.  Reward pertama akan diberikan setelah games selesai sebagai reinforcement positif agar anak semakin semangat untuk memulai proses pembelajaran.

·         Inti (35 menit)

Pada tahap ini, kelompok akan memperkenalkan kreativitas yang akan dilakukan, pengarahan kegiatan, dan pelaksanaannya. Kreativitas yang akan dilaksanakan adalah membentuk plastisin sesuai dengan yang anak inginkan.

·         Penutup (10 menit)

Menjelaskan hasil dari apa yang telah anak lakukan (manfaat), mengapresiasikan hasil dari kinerja anak, mengajak anak bernyanyi bersama sebagai kegiatan untuk tetap mengakrabkan suasana antara kelompok dan anak agar anak merasa bahwa kelompok sekarang menjadi bagian dari mereka. Kelompok akan mengingatkan anak-anak jadwal pertemuan selanjutnya, dan pada akhirnya kita memberikan reward sebagai penutup.

Pertemuan II : Rabu, 2 april 2014

·         Pendahuluan (10 menit)

Pada tahap ini, kelompok akan bertanya kabar anak-anak terlebih dahulu. Lalu kelompok dan anak-anak akan bernyanyi bersama sesuai dengan lagu yang dapat dinyanyikan oleh anak-anak semuanya sebelum memulai pembelajaran. Lagu tersebut berjudul “lulalulali”
·         Inti (35 menit)

Pada tahap ini, kelompok akan menampilkan sebuah video tentang binatang laut kepada anak-anak dengan durasi sekitar 8 menit. Ketika selesai ditampilkan, kelompok akan menjelaskan kembali video tersebut dan bertanya apakah anak-anak mengerti apa yang disampaikan. Setelah itu, kelompok akan memberikan puzzle untuk diselesaikan oleh anak-anak. Puzzle yang diberikan disesuaikan dengan binatang laut yang telah disampaikan lewat video sebelumnya sehingga anak-anak lebih mudah mengingat pelajaran dari video tersebut. Disini anak-anak dibagi menjadi dua kelompok. Tiap kelompok terdiri dari dua orang. Bagi kelompok yang menyelesaikan puzzle terlebih dahulu akan menjadi pemenangnya, dan akan diberikan reward.

·         Penutup (15 menit)

Sebelum mengakhiri pembelajaran, kelompok akan menjelaskan hasil dari apa yang telah anak lakukan (manfaat), mengapresiasikan hasil dari kinerja anak. Kelompok juga akan mengajak anak untuk bernyanyi bersama, dan meminta anak untuk menyampaikan kesan dan pesan selama proses pembelajaran. Membagikan Puzzle yang telah mereka kerjakan dan memberikan bingkisan kepada anak sebagai tanda terimakasih atas kesediaan mereka.

II. PEMBAGIAN TUGAS KELOMPOK

Pertemuan I:

1.      Nirmay

a.       Pembuka, menyapa anak-anak

b.      Memperkenalkan anggota kelompok

c.       Meminta anak didik untuk memperkenalkan diri dan cita-citanya.

d.      Membawakan games.

e.       Mendampingi anak ketika membuat plastisin

2.      Esther

a.       Memperkenalkan plastisin

b.      Menjelaskan apa yang akan dilakukan anak didik

c.       Memeberi contoh dalam membentuk plastisin

d.      Menyuruh anak didik untuk membentuk plastisin sesuai dengan keinginan mereka masing-masing.

3.      M. Anggy

a.       Menjelaskan hasil dari yang telah dilakukan anak.

b.      Mendampingi anak ketika membuat plastisin

4.      Santha

a.   Observer         

Pertemuan II
1.      Esther

a.       Menanyakan kabar dan bernyanyi bersama

b.      Membagikan hasil kreasi dan mebagikan reward

2.      Nirmay

a.       Menjelaskan apa yang ada di video yang ditampilkan

b.      Bertanya kepada anak didik megenai video yang ditampilkan

c.       Memberikan rangkuman untuk anak didik agar mampu mengingat ciri-ciri dari bintang laut yang dipelajari sehingga anak mudah membedakannya.

d.      Mendampingi anak didik dalam menyusun puzzle

3.      Santha

a.       Membawakan sesi bermian puzzle

b.      Menjelaskan prosedur pengerjaannya.

c.       Menjelaskan hasil yang telah dikerjakan/disusun oleh anak

d.      Mendampingi anak ketika menyusun puzzle

4.      M.Anggy

a.       Observer

b.      Bertanya tentang kesan anak selama proses pembelajaran berlangsung 

III     ALAT BANTU YANG DIGUNAKAN

·         Kursi

·         Meja

·         TV

·         Puzzle

·         Plastisin

·         Video (binatang laut)

·         Kertas

·         Pulpen


BAB 3

PROSES PEMBELAJARAN


1.           Skenario

HARI PERTAMA

a.Pembuka

Pembelajaran hari pertama dimulai pada pukul 17.45 WIB. Diawali dengan perkenalan diri oleh pengajar dan anak didik. Pembukaan perkenalan dibawakan oleh Nirmay kemudian Esther, Santha, dan Anggy memperkenalkan diri. Setelah masing-masing anggota pengajar memperkenalkan diri, maka anak-anak didik mulai memperkenalkan diri.

Kemudian setelah memperkenalkan diri, Nirmay sebagai pengajar mengadakan games dengan tema “Siapakah aku?”. Disini Nirmay mengajukan dua pertanyaan, sebagai berikut:

1. Tubuh ku kecil, aku sering berbaris bersama teman-temanku. Kalau aku menggigit manusia, mereka  akan merasa kesakitan. Siapakah aku?

2. Aku memiliki tiga warna. Kaki ku hanya satu. Aku sering berada disimpang jalan. Kalau warnaku hijau semua kendaraan boleh berjalan, kalau warnaku merah “STOP”,  berarti semua kendaraan harus berhenti. Siapakah aku?

Nirmay meminta adik-adik untuk berlomba dalam menjawab pertanyaan tersebut. Pertanyaan pertama dijawab oleh Silviana dengan jawaban Semut sedangkan pertanyaan kedua dijawab oleh Juan dengan jawaban Lampu lalu lintas. Sebagai bentuk apresiasi terhadap anak-anak didik yang sudah menjawab games tersebut, maka nirmay memberikan reward berupa snack kepada Silviana dan Juan.
b. Inti

Pada bagian inti, pengajar digantikan oleh Esther, sementara M.Anggy dan Nirmay sebagai pendamping anak didik. Pengajar dan pembimbing lainnya membagikan plastisin kepada setiap anak. Pengajar terlebih dahulu mengajak anak-anak untuk bersama-sama membentuk plastisin yang bertemakan Taman; dimana didalam taman terdapat pagar, pohon, bunga, dan matahari yang menyinari taman. Setelah itu, anak-anak mulai membuat plastisin sesuai dengan arahan pengajar dan pengajar juga memperkenankan anak-anak untuk membentuk plastisin sesuai dengan kreativitas anak. Setelah selesai membuat plastisin, anak didik diminta untuk menjelaskan hasil kreativitasnya kepada pengajar dan teman-temannya yang lain. Pengajar juga mengarahkan agar anak-anak menjelaskan hasil karya plastisin mereka dengan bahasa inggris. Contohnya Silviana membuat plastisin berbentuk bunga kemudian Silviana menjelaskan kepada temannya bahwa bahasa inggris bunga adalah Flower demikian dengan anak didik lainnya.
c.Penutup

Bagian penutup dibawakan oleh M.Anggy. Disini pengajar menjelaskan hasil dari kreativitas yang telah dilakukan. Sebelum proses pembelajaran dibubarkan, pengajar mengingatkan kepada anak didik bahwasanya besok hari pada pukul 17.00 Wib untuk berkumpul kembali ditempat yang sama. Kemudian, pengajar dan pembimbing lainnya memberikan reward kepada anak berupa snack dan mempersilahkan anak didik untuk membawa pulang hasil kreativitas mereka.


2.        Objek Observasi

a)    Komunikasi

Nirmay membawakan games dengan postur setengah tubuh dengan lutut bertumpu pada lantai. Nirmay menunjukkan kontak mata kepada masing-masing anak. Pilihan kata yang digunakan tidak terlalu sulit untuk dimengerti oleh anak didik. Nirmay menggunakan bahasa yang formal namun memiliki style yang mencoba untuk menjadi seperti anak-anak. Seperti “ayo adek-adekku, kita mulai ya games nya. Siapa yang tertib bakalan kakak kasih hadiah ya”

Pengajar (Esther) membawakan pengajaran plastisin dengan postur duduk dan banyak memainkan gesture tangan. Esther meminkan kontak mata yang menunjukkan kegembiraan kepada anak didik. Pemilihan kata yang digunakan Esther juga formal tapi masih dapat dimengerti oleh anak-anak. Seperti “adek-adek kita buat plastisin ya. Siapa yang sudah pernah buat plastisin?”

Pembimbing (Anggy) duduk disamping anak didik dan berbaur dengan mereka. Anggy membimbing anak didik satu per satu dan mulai mengarahkan anak didik untuk membuat  apa yang diajarkan oleh Esther.

b)   Respon Audiens

Anak didik mulai memperkenalkan diri satu persatu dengan berdiri dihadapan pengajar dan audiens lainnya. Adapun perkenalan diri yang dilakukan anak didik adalah sebagai berikut:

Anak didik pertama:

Nama     : Stefanus
          Kelas     : 2 SD
         Cita-cita : Pilot

Stefanus memperkenalkan diri dengan malu-malu dan wajahnya menunduk ke bawah. Stefanus merupakan anak yang aktif, dalam arti bahwa dia suka menjawab apa yang ditanyakan oleh pengajar. Dalam membuat plastisin, Stefanus merupakan anak yang pintar dan kreatif. Ia membuat es krim, kue, dan pohon yang terbuat dari plastisin. Stefanus memperkenalkan plastisin yang sudah dia buat dan menjelaskan satu per satu hasil plastisin yang dia buat dan mengartikan hasil yang dibuat kedalam bahasa inggris. Stefanus adalah salah satu anak yang mahir berbahasa inggris. Kelompok sedikit kesusahan dalam menertibkan Stefanus karena Stefanus adalah seorang yang mudah bosan, tidak bisa tenang dan selalu ingin menjawab setiap pertanyaan yang diberikan.

Anak didik kedua:

Nama     : Silviana
         Kelas      : 2 SD
         Cita-cita : Dokter

Silviana memperkenalkan diri dengan percaya diri dan sedikit centil. Nada suaranya juga centil seperti suara boneka. Silviana adalah anak yang penurut, dia tidak suka mengganggu temannya. Silviana sangat gembira ketika akan membuat plastisin. Dia sangat antusias dan melompat-lompat kegirangan saat pengajar mulai membagikan plastisin. Silviana membuat plastisin sesuai dengan arahan pengajar dan dia juga membuat plastisin dengan gambar manusia dan bunga. Silviana menjelaskan hasil karyanya dan mengartikan hasil yang dibuat kedalam bahasa inggris dan dia adalah anak yang sangat kreatif dan pintar.

Anak didik ketiga :

Nama     : Juan
Kelas      : 2 SD
Cita-cita : Polisi

Saat memperkenalkan diri, Juan sangat antusias dan postur tubuhnya tegak seperti seorang polisi. Dia memperkenalkan dirinya dengan tegas. Juan merupakan anak yang aktif dan dia aktif dalam berbicara. Juan membuat plastisin berbentuk bunga dan posisi bunga berdiri. Juan terlihat menunjukkan kreativitasnya dengan sangat bagus. Juan lebih suka menjelaskan plastisinnya dengan cara bercerita seperti “Aku mau membuat bunga. Daun bunganya berwarna hijau, ditengah ada warna merah supaya berwarna warni bunganya”, kata Juan ketika mempresentasikan hasil kreativitasnya.

Anak didik keempat:

Nama     : Miracle
Kelas      : 2 SD
Cita-cita : Jendral

Miracle saat memperkenalkan diri sangat pemalu.Dia anak yang memang harus dibujuk untuk melakukan sesuatu, itu bukan karena Miracle tidak mampu namun karena kemampuan adaptasi Miracle tidak secepat teman-teamnnya. Dalam pembentukan platisin salah satu anggota kelompok harus duduk disebelah Miracle untuk mengajaknya membentuk plastisin. Miracle lebih banyak diam sehingga kelompok harus selalu mendampinginya agar dia mau aktif dalam berjalannya kegiatan pembelajaran.

HARI KEDUA

a. Pembuka
           Di hari ke dua peserta bertambah menjadi lima orang. Dea yang merupakan teman Silviana minta ijin untuk bergabung bersama kami. Dea adalah siswa SD Budi Murni Medan kelas 1 SD. Dea bercita-cita menjadi seorang dokter. Setelah berkenalan dengan Dea, pembelajaran pun dimulai dengan sesi pembuka.
Pada sesi ini, pembukaan dimulai dengan menyapa anak didik yang dibawakan oleh Esther. Kemudian pengajar juga menanyakan kabar setiap anak didik. Lalu pengajar mengajak anak-anak untuk bernyanyi bersama sebelum memasuki kegiatan pembelajaran. Lagu yang dibawakan adalah lagu “Lulalulali”.

b. Inti
           Kemudian menonton video “Belajar Binatang Laut (membedakan Lumba-lumba, Hiu, Paus dan cirri-cirinya)” yang dipimpin oleh Nirmay. Pada saat video diputar, anak-anak disuruh untuk menebak semua apa yang dilihat pada film dengan cara pengajar memberhentikan (pause) film, dan kemudian menunjuk apa yang harus mereka tebak dan memberi kesempatan kepada mereka untuk menjawabnya. Gambar yang mereka tebak seperti lumba-lumba, hiu dan ikan paus. Sesi inti, kami memberikan puzzle yang sudah diacak. Tetapi sebelumnya puzzle sudah difoto agar mereka mengetahui wujud puzzle yang sesungguhnya. Pada sesi ini dibawakan oleh Santha dan di observasi oleh Anggy. Puzzlenya terbagi menjadi 2, Puzzle dengan tema safari dan puzzle dengan tema binatang laut. Kemudian kami membagi 2 team. Team 1 terdiri dari Juan dan Miracle yang didampingi oleh Santha, team 2 terdiri dari Stefanus, Dea, dan Silviana yang didampingi oleh Nirmay. Pada sesi selanjutnya tetap bermain puzzle, tetapi puzzlenya ditukar, team 1 yang awalnya puzzle binatang laut kemudian ditukar menjadi safari, begitupun team 2. Pada sesi ini team 1 berhasil menyelesaikan puzzlenya dalam waktu 8 menit. Dan team 2 berhasil menyelesaikan puzzlenya dengan waktu 20 menit. Pada sesi pergantian Puzzle, orangtua Dea memanggil Dea untuk pulang. Dea pun ijin pulang sebelum proses pembelajaran selesai.

C. Penutup

        Pada sesi penutup yang dipimpin oleh Anggy, masing-masing anak dipersilahkan satu per satu untuk mengungkapkan kesan dan pesannya selama dua hari berlangsungnya proses pembelajaran. Pertama yang menyampaikan pesan dan kesannya adalah Stefanus (mengajukan diri sendiri), kemudian diikuti oleh Silviana, Miracle dan terakhir oleh Juan.
b. Objek Observasi

a) Komunikasi
Nirmay mengajak anak didik untuk menonton bersama film Belajar Biantang Laut (Lumba-lumba, Hiu, Paus) dengan posisi berdiri tetapi dengan posture  kaki sedikit tertekuk dan badan sedikit menunduk untuk menanyakan kepada anak didik gambar apa-apa saja yang ada di video tersebut. Sambil bertanya kepada anak didik seperti “Ayo binatang laut apa itu adik-adik?” kemudian Nirmay melakukan kontak mata dengan anak didik yang menjawab dengan antusias dan serentak menebak gambar yang di video tersebut.
Esther pada saat memimpin untuk bernyanyi sangat bersemangat mempraktikkannya kepada anak didik dengan gaya periang dan kanak-kanak. Setelah mengatakan “Ayo adik-adik, kita bernyanyi bersama kakak yuk. Ikuti gerakan kakak ya”, kemudian dengan posisi berdiri kemudian membuat gerakan menggoyang-goyangkan kaki dan tangan, Esther mengajak anak-anak untuk mengikutinya agar suasana lebih meriah dan anak didik bersemangat untuk memulai proses belajar hari ini.
Pembimbing (Santha) dengan posisi duduk di samping anak didik, dia melakukan kontak mata dan mengajari anak satu per satu bagaimana untuk menyusun puzzle. Dengan kemudian Santha memberitaukan tentang apakah posisi potongan puzzlenya sudah benar atau masih salah letaknya. Dengan sabar Santha mencoba mengajari anak didik tersebut.
Anggy sebagai observer dengan posisi duduk di lantai dan memperhatikan sambil menulis keberlangsungan kegiatan pembelajaran yang berlangsung pada saat itu.

b) Respon Audiens
Anak didik bernyanyi bersama-sama dengan gerakan yang didemonstrasikan oleh pengajar. Anak didik dengan bersemangat mengikuti gerakan yang dibawakan oleh Esther. Pada sesi menonton video, anak didik sangat antusias menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Nirmay, sambil berdiri bahkan melompat sambil mengangkat tangan mereka ke atas. Kemudian diikuti dengan sesi menyusun puzzle.
Adapun respon yang dilakukan oleh masing-masing anak didik yaitu:
Juan pada saat menonton video berada pada posisi duduk paling depan, bahkan dengan melompat sambil dengan suara yang keras dan sangat percaya diri dalam menjawab pertanyaan yang diberikan oleh pengajar. Dalam menyusun puzzle, Juan yang berada pada team 1 lebih cenderung duduk dan diam sambil melihat-lihat potongan puzzle. Sesekali Juan juga menempelkan potongan puzzle tersebut ke dalam bagan puzzle, tetapi karena belum dapat potongan yang cocok diapun menjadi tunduk dan bingung.
Miracle pada saat menonton video lebih cenderung diam dan tertawa sambil sesekali menjawab tetapi dengan suara yang tidak kuat. Pada saat menyusun puzzle, Miracle dengan posisinya yang berdiri, dia sangat cepat mengerjakannya mulai dari melihat potongan-potongan puzzle yang ada dan kemudian mencocokkannya dan dia memulainya dari sudut-kanan bagian atas puzzle. Miracle terlihat sangat cerdas, dikarenakan dia tidak terlalu banyak mencoba satu per satu potongan puzzle yang ada. Miracle berada pada team satu dan dialah yang sangat berkontribusi besar untuk menyusun puzzle ini dengan sangat cepat, sehingga membuat team satu jauh lebih cepat menyusun puzzle dibandingkan team dua.
Stefanus disaat menonton video dialah anak didik yang paling bersemangat diantara semuanya. Pada saat menonton video, ketika pengajar mengajukan pertanyaan Stefanus lebih sering berdiri dan melompat sambil berteriak- teriak seperti “Aku tau, aku tau, aku tau jawabannya!!!”. Di saat menyusun puzzle, Stefanus seperti kebingungan dan frustasi ketika tidak menemukan potongan puzzle yang sesuai dengan bagan puzzle yang dimiliki teamnya. Apalagi team dua sangat jauh lebih lama dalam menyusun puzzle, hal tersebut membuat Stefanus terlihat cemberut dan iri dengan team satu yang sudah selesai lebih dulu. Kemudian Stefanus sepertinya mulai gelisah dan putus asa sehingga membuat pembimbingpun turun tangan membantu menyelesaikan potongan-potongan puzzle yang tersisa.

Silviana pada saat menonton video juga sangat bersemangat, tetapi tidak sambil melompat-lompat seperti yang dilakukan  temannya Juan dan Stefanus. Silviana hanya berdiri dan mengangkat tangannya ke atas dan meneriakkan jawabannya tetapi Silviana meneriakkan jawabannya tidak dengan suara yang terlalu keras. Kemudian pada saat sesi menyusun puzzle, Silviana masuk kedalam team dua. Silviana bersama dengan Stefanus menyusun bersama-sama. Dengan diam dan tekun Silviana mencari potongan yang cocok. Tetapi ketika team satu sudah selesai menyelesaikan puzzlenya, Silviana tetap tidak putus asa, ketika pembimbing memberi semangat kepada Silviana, Silvianapun memberikan semangat  kepada Stefanus agar tetap tenang dan mencari potongan-potongan puzzle yang tersisa.

Dea pada saat menonton video sangat bersemangat, ketika temannya sibuk untuk berlomba menjawab, dia pun ikut sibuk. Ketika menyusun Puzzle sesi pertama, Dea kelihatan kebingungan dan sama sekali tidak mampu dalam menyusun puzzle sehingga Stefan sering menegurnya karena terlalu berisik dan mengganggu. Hanya itulah yang bisa kelompok observasi dari Dea. Pada sesi kedua sampai penutup Dea sudah pulang dan meninggalkan kegiatan pembelajaran yang berlangsung.



Bab IV

EVALUASI
Pembelajaran yang dilakukan ini didasarkan atas prinsip-prinsip proses pedagogis (Addine, 2001).  Prinsip-prinsip proses pedagogis tidak secara keseluruhan terlihat dalam pembelajaran ini. Prinsip yang dapat terlihat adalah prinsip ketiga yaitu mengkombinasikan karakter kolektif dan individual pendidikan, serta penghormatan terhadap kepribadian siswa. Ini berarti bahwa jika proses pedagogis terjadi dalam konteks sekelompok orang, yang dikumpulkan sesuai dengan kriteria yang berbeda dan mengadopsi karakteristik tertentu, setiap anggota memiliki kekhususan yang unik yang membedakan dia dari yang  lain, dan memiliki hak untuk dipertimbangkan dan dihormati juga.
Kriteria yang dimiliki oleh anak didik ini berbeda meskipun ada yang memiliki kesamaan. Kriteria yang kelompok lihat disini adalah tingkat kelas anak di sekolah. Disini Juan, Stefanus, Silviana memiliki kriteria yang sama karena mereka duduk di bangku  kelas 2 SD saat ini, sementara Miracle memiliki kriteria yang berbeda karena dia duduk di bangku kelas 1 SD.
Berdasarkan hasil observasi kelompok, setiap anak memiliki karakter yang berbeda-berbeda. Miracle adalah sosok anak yang kurang aktif. Di saat teman-temannya antusias dalam menjawab pertanyaan dari pengajar, Miracle lebih sering untuk diam. Berbeda dengan Stefanus, Silviana dan Juan yang aktif. Stefanus aktif dalam mengikuti pembelajaran, hal ini terlihat ketika dia sering untuk memulai menjawab pertanyaan terlebih dahulu dibandingkan teman-temannya.  Bahkan dia sering menjadi orang pertama ketika memperkenalkan diri, memberikan kesan terhadap pembelajaran yang diikuti. Stefanus juga memiliki karakter pembosan. Silviana juga anak yang cukup aktif dimana saat diberikan pertanyaan oleh pengajar, Silviana termasuk cepat dalam menjawabnya. Sementara itu, Juan yang juga anak yang aktif, terlihat ketika dia menjawab pertanyaan dengan semangat dan cepat. Juan juga anak yang sering mengomentari atau menyambung perkataan temannya ketika dalam pembelajaran. Dari sini kelompok menyadari bahwa karakter-karakter oleh keempat anak tersebut adalah unik dan kami sebagai pengajar menghargai setiap karakter mereka.
Pembelajaran ini terutama di hari pertama memang menggunakan waktu yang lebih lama dibandingkan waktu yang ditargetkan. Di hari pertama, waktu dalam melakukan inti pembelajaran (membentuk plastisin) sehingga anak mulai gelisah ketika pembelajaran tersebut belum usai.  Kelompok menyadari akan hal itu dan seharusnya memperhatikan kondisi dari anak didik tersebut.
Kegiatan yang dilakukan dalam pembelajaran juga didasarkan pada teori strategi memecahkan masalah. Memecahkan masalah disini adalah memecahkan  puzzle. Ada beberapa strategi dalam memecahkan masalah yakni trial and error, algoritma, heuristic, informational retrieval, dan thinking. Disini kelompok lebih fokus kepada strategi memecahkan masalah dengan cara trial error dan thinking. Trial and error artinya strategi memecahkan masalah dengan cara coba-coba, sedangkan thinking merupakan strategi dimana sebelum memecahkan masalah, seseorang berpikir terlebih dahulu.
Dari pembelajaran ini, didapatkan strategi memecahkan masalah yang dimiliki oleh setiap anak berbeda-beda. Stefanus dan Juan cenderung menggunakan strategi trial-error. Hal ini terlihat ketika Stefanus dan Juan mencoba-coba untuk meletakkan potongan puzzle ke letak yang sebenarnya tidak sesuai. Bahkan Stefanus hampir mengoyakkan potongan puzzle tersebut agar sesuai dengan letak yang diinginkannya. Sementara itu, Silviana dan Miracle menggunakan strategi thinking. Hal ini terlihat ketika mereka memegang salah satu potongan puzzle namun tidak langsung meletakkannya ke papan puzzle, mereka diam sejenak, sambil berpikir dimana letak potongan puzzle yang sedang mereka pegang.

 LAMPIRAN


Foto A : Pengajar dan Anak Didik saling memperkenalkan diri satu per satu


Foto B: Belajar berkreatifitas dengan menggunakan plastisin


Foto C: Mengasah kemampuan anak dalam mengatasi masalah dengan bermain puzzle



Foto D: Pemberian reward dan foto bersama sebagai tanda berakhirnya pelaksanaan
             pembelajaran yang diadakan selama 2 hari


Sabtu, 29 Maret 2014

Pedagogi

     Pedagogi merupakan salah satu seni mengajar. Pedagogi berasal dari bahasa Yunani paidagōgeō (Yunani) dimana pals, genitif, paidos artinya “anak” dan àgô artinya “memimpin” sehingga secara harafiah artinya “memimpin anak”. Pedagogi bermakna mengajari anak (Latin). Dalam makna modern, istilah pedagogy dalam bahasa Inggris merujuk kepada teori pengajaran, dimana guru berusaha memahami bahan ajar, mengenali siswa, dan menentukan cara mengajarnya.
     Istilah pedagogi berbeda dengan pedagogis. Pedagogi lebih menekankan pada praktik menyangkut kegiatan membimbing/ mendidik anak, sedangkan pedagogis lebih menekankan pada pemikiran tentang pendidikan.
    Ada tiga isu yang muncul terkait masalah pedagogi. Pertama, pedagogi merupakan sebuah proses yang bertujuan. Dalam makna umum, istilah ini sering digunakan untuk menjelaskan prinsip dan praktik mengajar anak-anak.     Kedua,  banyak pekerjaan “pedagogi sosial” yang telah digunakan untuk menggambarkan prinsip-prinsip mengajar anak-anak dan kaum muda. Paul Freire (1972) menggunakan pengertian pedagogi merujuk kepada pekerjaan dengan orang dewasa yang di dalamnya juga terkait erat dengan mengajar anak-anak. Pedagogi juga kadang-kadang disebut sebagai istilah lain untuk strategi pembelajaran.
    Ketiga, sejauh mana pengertian pedagogi telah dipahami dan dominan mewarnai proses pembelajaran dalam konteks sekolah. Persoalan mengajar tidak hanya dikaitkan dengan guru atau siswa semata. Diskusi tentang pedagogi selalu dikaitkan dengan kurikulum, pengajaran, siswa, media pembelajaran, dan situasi yang mengitarinya. Bahkan, istilah pedagogi menyentuh juga dimensi pendidikan pada umumnya atau seluruh tatanan yang memungkinkan interaksi antar subjek yang bernuansa pengajaran dan pembelajaran, baik di dalam maupun di luar kelas.
    Dalam kerangka analisis, proses pedagogis menjadi penting untuk mempertimbangkan beberapa prinsip yang memandu proses pedagogia itu. Menurut Addine (2001) prinsip pedagogi di antaranya kesatuan karakter ilmiah, ideologis dari proses pedagogis, hubungan pembelajaran dengan kehidupan, mengkombinasikan karakter kolektif dan individual pendidikan, penghormatan terhadap kepribadian siswa, kesatuan pengajaran, pendidikan, dan perkembangan proses, masing-masing subsistem aktivitas, komunikasi, dan kepribadian saling terkait satu sama lain.
    Anak didik yang mendapat pengajaran dengan seni mengajar pedagogi tidak didasarkan atas umur kronologis seseorang, namun hal ini terkait usia mental seseorang. Seseorang  yang belum cukup umur dari segi usia mentalnya meskipun dari umur kronologisnya sudah bisa dikatakan dewasa mungkin masih harus mendapat pengajaran dengan seni mengajar pedagogi, dan juga sebaliknya.
    Ahli pedagogis harus menetapkan tujuan-tujuan pembelajaran, menunjukkan sikap positif dan kepercayaan kepada peserta didik, mengevaluasi  dan menilai secara adil dan cepat, mendorong siswa berpikir agar siswa lebih kreatif.  Seorang ahli pedagogi belum tentu seorang guru. Namun seorang guru sebaiknya memiliki karakter pribadi ksatria, jujur, disiplin, penyayang, integritas, antusias, motif dan juga komitmen.


Referensi :
Danim, Sudarwan dan H. Khairil, 2013. Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung: Alfabeta.

 

Sabtu, 26 Oktober 2013

Assertive

Assertion atau  pernyataan yang tegas merupakan sesuatu yang tidak dibawa sejak lahir, alami atau permanen. Assertive juga merupakan situasi yang refleks dan bukan kepribadian.

Suatu ketika saya berada di kelas psikologi komunikasi, sang dosen memberikan sebuah studi kasus singkat kepada para mahasiswa. Beliau mengatakan seperti ini “Misalkan kalian berada di samping teman kalian yang badannya bau keringat, yang memang saat itu kondisi di luar ruangan sangat panas. Kalian merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut. Apa yang akan kalian sampaikan kepadanya tanpa harus membuat dia tersinggung?”. Kemudian seorang mahasiswa menjawab “Saya mungkin akan mengatakan eh kok agak bau keringat ya disini. Sepertinya kamu...”. Kemudian mahasiswa lain menjawab, “ Mungkin saya akan berkata seperti ini maaf sebelumnya aku merasa ada bau yang kurang sedap di area sini.” Setelah mendengar beberapa pendapat dari mahasiswa, dosen mengatakan bahwa apa yang mereka sampaikan bukan assertive melainkan non assertive. Semua mahasiswa merasa kebingungan, dan tidak tahu harus mengatakan seperti apa. 

Apa perbedaan assertive dengan non assertive? 

1.      Perilaku assertive akan berusaha melindungi hak dirinya dan juga hak orang lain. Sementara perilaku non assertive mengabaikan hak diri sendiri dan mengizinkan orang lain untuk menghina hak kita.
2.      Perilaku assertive memperhatikan perasaan dan kepercayaan orang lain sebagai bagian dari interaksi kita dengan orang lain, sementara itu perilaku non assertive meminta maaf atau bahkan merendahkan ide, perasaan, sikap, kepercayaan, atau informasi yang kita miliki sendiri
3.    Dalam hal cara mengekspresikan perasaan, perilaku assertive akan lebih terarah, jujur dan tepat dibandingkan dengan non assertive .
Seorang yang assertive merupakan orang yang komunikatif. Dari perbedaan assertive dengan non assertive di atas, kita dapat melihat karakter orang yang assertive yakni mereka bebas mengekspresikan keinginannya, mempunyai orientasi yang aktif terhadap kehidupannya (optimis). Menjadi orang assertive tidak selalu menang, tapi paling tidak kita dapat melindungi hak-haknya. Menjadi seorang yang assertive tentu akan mendapatkan konsekuensinya, baik itu yang positif maupun yang negatif.
Konsekuensi yang positifnya adalah akan dihargai orang lain sebagaimana menghargai orang lain, merasa bebas, mengembangkan diri dari banyak segi, dihormati banyak orang. Sementara itu, konsekuensi negatifnya adalah terkadang dianggap kurang sopan, terkesan terlalu menaikkan diri sendiri ketika sedang hanya mempertahankan argumennya, ditolak banyak orang karena dianggap kejam.
Kita bebas memilih apakah kita ingin menjadi assertive atau tidak. Itu bergantung pada diri kita sendiri ! :)

 

 

 

Kamis, 29 Agustus 2013

Quit from the comfort zone!

What your opinion about comfort zone? In my opinion, the comfort zone is circumstance when I feel good, and around me can make me feel comfort with them, and of course they are my family hohoo.
Dari kecil aku memang jarang keluar dari comfort zoneku alias rumah ortu . Pernah sih waktu kelas 1 SMA. Aku pernah sekolah di dolok sanggul, kota kelahiran papiku.  Tapi berhubung aku tidak tahan untuk keluar dari comfort zoneku, maka aku kembali ke kota asalku, medan sejak kelas 2 SMA. Dan saat ini, aku udah duduk di bangku kuliah tepatnya masuk ke semester 3. Liburan memasuki semester 3 ini, aku manfaatkan untuk liburan, dan tepatnya menjadi waktunya untuk keluar dari zona nyaman selama sebulan. Yah, aku liburan ke Jakarta dan sekitarnya. Disana aku tinggal dengan keluarga besar. Aku pada awalnya berangkat dengan mamiku tanggal 13 juli 2013. Mami yang emang ada urusan kembali ke Medan tanggal 23 Juli 2013. Sementara aku tetap stay di Jakarta hingga tanggal 22 Agustus 2013.

Keluar dari zona nyaman banyak memberikan dampak bagiku baik itu suka maupun duka.  Sukanya yaitu ketika aku bisa merasakan keindahan yang berbeda dari kota asalku dengan kota-kota yang kunjungi. Selain itu, aku juga merasa bersukacita ketika berkumpul dengan keluarga-keluargaku yang sudah lama tidak kutemui. Namun dibalik suka itu, ada duka yang mungkin bisa menjadi pelajaran bagiku di kemudian hari. Dukanya adalah ketika aku tidak merasa nyaman dengan kebiasaan-kebiasaan keluargaku yang ada di Jakarta dan sekitarnya, aku juga merasakan pergesekan karakter dan kebiasaan baikku pun sering kali tidak kulakukan disana, yakni bersaat teduh. Aku sering kali kalah dengan keadaanku yang membuatku menjadi pasrah, padahal saat teduh bukan hubungan dengan manusia melainkan hubunganku dengan Tuhan. Bahkan pun, kebiasaanku untuk bible reading di malam hari semenjak liburan tidak pernah lagi kulakukan. Dan saat ini pun aku belum dapat mengembalikan kebiasaanku ini. Rasanya sulit sudah.

Aku berharap pengalaman yang boleh ku ambil selama aku keluar dari comfort zoneku dapat menjadikan ku lebih dewasa ke depannya. Pergumulan keluarga yang beraneka ragam membuatku semakin menyadari bahwa hidup itu benar-benar kompleks ! Kita nggak bisa melihat sesuatu dari sudut pandang kita sendiri. Aku juga belajar bahwa aku memang belum ada apa-apanya. Aku terlalu terlena di comfort zoneku. Banyak hal yang harus aku benahi dalam diriku. Dan belajar untuk menjadi berkat bagi orang lain :)





Kamis, 20 Juni 2013

Thanks Giving Day

Hari Pengucapan Syukur (bahasa Inggris: Thanksgiving Day) adalah hari libur di Amerika Utara untuk mengucapkan terima kasih dan ran November. Di Kanada, Thanksgiving jatuh pada hari Senin kedua di bulan Oktober.

AMERIKA SERIKAT

Pengucapan Syukur yang pertama

Pesta Hari Pengucapan Syukur yang pertama diadakan tahun 1619 di Koloni Inggris yang sekarang disebut Perkebunan Berkeley di Virginia, dan di Plymouth, Massachusetts pada tahun 1621.

Akhir pekan yang panjang
Di Amerika Serikat, hari libur Thanksgiving yang selalu jatuh pada hari Kamis menjadi hari pertama dari akhir pekan yang lamanya 4 hari. Bagi sebagian pegawai (78% pada tahun 2007), hari Thanksgiving dan hari Jumat sesudahnya dijadikan hari libur yang digaji. Selain dari itu, pegawai dengan sistem cuti yang bisa diambil sewaktu-waktu dapat meminta cuti di hari sesudah Thanksgiving.

Sehari sesudah Thanksgiving adalah hari Jumat, yang disebut Jumat Hitam yang menandai dimulainya musim belanja Natal. Sebagian besar toko sudah buka sejak pagi hari (biasanya sejak jam 05.00 pagi), dan menjual barang dengan sistem obral rugi / cuci gudang agar pembeli mau datang. Disebut Jumat Hitam karena pada hari itu biasanya neraca pembukuan mereka berubah dari warna merah (merugi) menjadi hitam (untung). Toko-toko besar seperti toko-toko elektronik, supermal, dan semacamnya biasanya penuh dengan orang yang mengantri untuk membeli barang sejak Kamis sore. Beberapa toko elektronik sudah terbentuk antrian sepanjang 100-200 orang untuk membeli barang yang diobral. Toko-toko biasanya buka pada hari Jumat pukul 5 pagi, namun antrian kadang-kadang sudah dimulai sejak hari Kamis pukul 5 sore. Supermal kadang-kadang buka pukul 12 tengah malamnya dan toko-toko di dalamnya menjual barang-barang obral. Pada hari istimewa ini tidak jarang pengunjung supermal pada tengah malam tersebut membeludak menjadi ratusan bahkan ribuan orang.


                      KANADA


Perayaan di Kanada

Thanksgiving dirayakan pada hari Senin minggu kedua di bulan Oktober. Di Amerika Serikat, hari yang sama dirayakan sebagai Hari Colombus dan merupakan hari libur resmi. Asal-usul Thanksgiving di Kanada berbeda dengan di Amerika. Orang Kanada merayakan Thanksgiving sebagai tanda terima kasih kesuksesan panen.

Thanksgiving merupakan perayaan selama 3 hari di akhir pekan. Di beberapa provinsi, perayaan bahkan sampai empat hari, dari Jumat sampai Senin. Hari Thanksgiving hanya dirayakan bersama keluarga di provinsi Kanada yang berbahasa Inggris, dan tidak begitu dirayakan penduduk Kanada keturunan Perancis. Hari menikmati makanan Thanksgiving biasanya tidak ditentukan, bisa saja dimakan pada hari Kamis, Jumat, atau Minggu asalkan masih di akhir pekan Thanksgiving. Pesta makan Thanksgiving bagi orang Kanada bisa berlangsung berkali-kali. Kalau hari ini dengan sanak saudara dari pihak suami, keesokan hari bisa dengan sanak saudara yang lain. Walaupun Thanksgiving secara turun temurun dirayakan bersama keluarga, liburan akhir pekan Thanksgiving sering dimanfaatkan pasangan anak muda untuk berjalan-jalan menikmati pemandangan daun musim gugur.

Di Kanada, Sinterklas tidak ikut berpawai di hari Thanksgiving. Satu-satunya pawai Thanksgiving terbesar di Kanada adalah pawai Oktoberfest di Kitchener-Waterloo.

Sejarah Hari Pengucapan Syukur di Kanada

Sejarah Thanksgiving di Kanada dimulai penjelajah Inggris Martin Frobisher yang berusaha menemukan jalan utara ke Asia dari benua Amerika. Ia tidak berhasil menemukan Selat Bering, tapi berhasil mendirikan permukiman penduduk di Kanada. Pada tahun 1578, Martin Frobisher mengadakan upacara peringatan di tempat yang sekarang disebut provinsi Newfoundland and Labrador. Maksudnya sebagai ucapan terima kasih sudah selamat dari perjalanan panjang. Upacara peringatan yang dipimpin Martin Frobisher merupakan Thanksgiving Kanada yang pertama, sekaligus perayaan Thanksgiving yang pertama di Amerika Utara. Pemukim lain yang banyak berdatangan ke Kanada kemudian melanjutkan tradisi ini. Martin Frobisher di kemudian hari menerima gelar satria dari Kerajaan Inggris dan namanya diabadikan untuk sebuah teluk di Kanada bagian utara yang disebut Teluk Frobisher.

Pada saat bersamaan, pemukim asal Perancis yang berhasil menyeberangi samudra di bawah pimpinan penjelajah Samuel de Champlain juga mengadakan pesta besar untuk mengucapkan syukur. Mereka bahkan membentuk perkumpulan sosial bernama Ordre de bon temps untuk meningkatkan semangat dan perbaikan gizi pemukim asal Perancis, sambil berbagi dengan tetangga yang penduduk asli Kanada.

Setelah Perang Tujuh Tahun berakhir pada tahun 1763 dengan New France jatuh ke tangan Inggris, penduduk Halifax merayakan Thanksgiving secara istimewa.

Setelah berakhirnya revolusi Amerika, pengungsi asal Amerika yang merupakan pendukung setia Kerajaan Britania Raya mengalir ke Kanada. Para pengungsi membawa serta tradisi dan kebiasaan Thanksgiving Amerika ke Kanada, walaupun perayaan Thanksgiving di Kanada nantinya tetap berkaitan dengan peribadatan dan tradisi festival panen daratan Eropa dan Inggris. Gereja dihiasi dengan cornucopia (hiasan berbentuk corong berisi sayur-sayuran dan buah-buahan), labu, jagung, ikatan gandum, dan berbagai hasil panen lainnya.

Pada akhirnya pada tahun 1879, Parlemen Kanada menetapkan tanggal 6 November sebagai hari Thanksgiving dan libur resmi di Kanada. Setelah itu, hari perayaan Thanksgiving sering berubah-ubah, tapi seringkali pada hari Senin minggu ketiga di bulan Oktober. Setelah Perang Dunia I, Armistice Day dan Thanksgiving sama-sama dirayakan di hari Senin sekitar tanggal 11 November. Sepuluh tahun kemudian pada tahun 1931, kedua perayaan dipisah dan Armistice Day dinamakan Remembrance Day.

Pada tanggal 31 Januari 1957, Parlemen Kanada menetapkan: "Hari Thanksgiving secara umum untuk Tuhan yang Mahakuasa yang memberkahi Kanada dengan panen melimpah .. akan diperingati pada hari Senin minggu kedua bulan Oktober."

Hari Thanksgiving Kanada yang pertama setelah akte Konfederasi dilangsungkan pada hari libur tanggal 5 April 1872 untuk merayakan kesembuhan Pangeran Wales (nantinya menjadi Raja Edward VII dari Britania Raya) dari sakit keras. Sejak tahun 1879, Thanksgiving selalu dirayakan setiap tahun, tapi tanggalnya baru ditetapkan pada tahun itu dan selalu berubah-ubah.

Manajemen Waktu

Waktu yang diberikan kepada kita hanyalah 24 jam per harinya. Tidak lebih dan tidak kurang. Tapi dewasa ini, kita merasa kita kekurangan waktu untuk melakukan aktivitas kita. Padahal mungkin sebenarnya kita yang tidak mampu memanajemen waktu kita dengan baik. Kitta sering kali menggunakan waktu kita untuk hal-hal yang  kurang penting. Atau mungkin kita sering kali menunda-nunda waktu kita. Kecenderungan manusia untuk menunda-nunda waktu pelaksaanaan tugas ini  disebut dengan 'Procastination' dalam bahasa Inggris. Untuk memaksimalkan penggunaan waktu, kita perlu memiliki manajemen waktu yang baik.
Ada dua cara penggunaan waktu yang lebih baik, yaitu mengerjakan apa yang perlu dikerjakan dengan lebih efektif dan membuang hal-hal yang tidak perlu kita kerjakan.
Dalam memanajemen waktu diperlukan teknik untuk memilih aktivitas-aktivitas yang dipilih berdasarkan prioritas. Teknik yang klasik adalah dengan melihat suatu kegiatan dari dua aspek yaitu penting/ tidaknya dan urgen/ tidaknya suatu kegiatan.